MOLULO TARIAN TRADISIONAL MORONENE
MOLULO TARIAN TRADISIONAL MORONENE
Dalam bahasa Moronene, kata “molulo” berasal dari kata “lulo” yaitu sebuah tarian tradisional suku Moronene. Tarian “lulo” umumnya dilakukan oleh remaja hingga orang tua dimana pria dan wanita akan berdampingan secara berselang-seling membentuk lingkaran (atau separuh lingkaran apabila peserta masih sedikit). Peserta akan bergandeng tangan dimana telapak tangan kiri menghadap ke atas sementara telapak tangan kanan menghadap ke bawah sambil diayun-ayunkan mengikuti irama gerakan kaki selaras dengan alunan bunyi gendang atau gong (kini lebih banyak diiringi musik organ tunggal). Lihat pola gerakan kaki pada gambar terlampir.
Acara “molulo” biasanya digelar dalam ritual adat seperti perkawinan atau sebagai hiburan. Namun dalam tradisi lama, “molulo” juga digelar dalam ritual adat lain seperti pesta panen, merayakan sebuah peristiwa, festival berburu kepala (monga’e) dan pemakaman. Pada masa itu, “molulo” diiringi oleh alat musik tradisional seperti “ndengi-ndengi (perkusi kayu), “gandatari” (perkusi bambu) atau “gandawita” (tanah digali menjadi semacam gendang).
Dalam buku “Games and Dances in Sulawesi” karya Walter Kaudern tahun 1929, memaparkan sejumlah tarian melingkar (round dance) khas dari beberapa suku yang mendiami Sulawesi di antaranya adalah tari “raego” (Poso), “dero” (Pamona), “motaro” (Mori), “sumawi” (Lamala), “matimba” (Saadang) dan “badong” (Toraja), “lulo” (Moronene dan Tolaki). Beberapa jenis tarian melingkar ini ada yang memiliki kemiripan baik dalam hal ritual adat maupun penampilan.
Belum diketahui pasti kapan tradisi “molulo” mulai dilakukan oleh masyarakat Moronene. Namun menurut catatan dalam buku “Pu’uno ronga tekaleano Tomoronene” yang disusun oleh J. Riasa tahun 1985 (berdasarkan penelusuran yang dilakukan sejak April 1975 hingga 11 Maret 1985) mengutip salah satu kisah dalam “kada” (sastra lisan) bahwa Raja Ririsao (anak Raja Nungkulangi) bersama istrinya yang bernama Siti Abiyah (putri penguasa Luwu, Opu Topajung) disambut dengan acara “momaani” (tarian perang) dan “molulo” ketika tiba kembali di tanah Moronene dari perantauannya di tanah Luwu. Raja Ririsao (atau dikenal juga dengan nama Elu ‘Utentoluwu) disebutkan sebagai pendiri Kerajaan Moronene Polea.
Kemudian Johannes Elbert dalam bukunya “Die Sunda-Expedition” yang dirilis tahun 1911 menceritakan tentang tarian “lulo” yang menjadi tarian khas suku Moronene dan Tolaki saat berkunjung di wilayah Moronene (Kabaena, Rumbia, Poleang) dan Mekongga (Kolaka).
Elbert secara khusus mengisahkan pengalamannya menyaksikan pagelaran “lulo” ketika berada di Kabaena pada Oktober 1909 disertai sebuah sebuah foto (terlampir). Pagelaran tersebut diselenggarakan oleh kepala kampung sebagai ungkapan tanda terimakasih kepada Elbert yang telah membagikan beberapa hadiah (cenderamata) kepada penduduk. Pada hari itu, tenda didirikan, seekor kerbau disembelih, padi ditumbuk dan ditapis untuk sebuah perjamuan. Malam harinya, api unggun dinyalakan dan sejumlah penduduk datang berkumpul dan mereka “molulo” diringi oleh alunan gendang hingga menjelang subuh. Walapun tarian “lulo” cenderung monoton tapi peserta tetap girang dan semangat karena diselingi dengan minuman tuak. Elbert menyebutkan pengalaman ini tidak jauh berbeda dengan pengalamannya ketika berkunjung di Rumbia.
Christiaan G.F. de Jong juga menjelaskan tentang tradisi “molulo” dalam masyarakat Moronene dan Tolaki dalam bukunya “Nieuwe hoofden, Nieuwe goden” tahun 2017. Tradisi “molulo” dalam masyarakat Moronene memiliki banyak persamaan dengan Tolaki. Kecuali “molulo tinundoki” yang memiliki irama musik yang agak pelan dan santai karena hanya diiringi oleh alunan ndengi-ndengi atau gandatari, bukan tawa-tawa (randu/gong). “Molulo tinundoki” biasanya merupakan bagian dari acara pesta panen, perkawinan dan ritual pemakaman. Kata “tinundoki” berarti ditendang dengan menggunakan tumit seperti dalam kata “metutundoki”, menyentakkan tumit ke tanah.
Masyarakat Moronene juga memilki ritual “molulo” yang digelar dalam rangkaian prosesi adat “ndo’ua” (pesta perkawinan) mulai dari tahap “mororondo” (pihak keluarga atau panitia mulai mempersiapkan acara pesta perkawinan) hingga pada hari H atau puncak acara. Di sela-sela waktu atau hari, gong dibunyikan untuk “molulo” sekedar sebagai hiburan sambil melepas lelah.
Kemudian secara khusus ritual “molulo” digelar dalam acara “mowuatako tua mentaa” (sehari sebelum hari H pesta perkawinan dimana pihak keluarga atau panitia menaikan peralatan pernikahan ke atas rumah yang terdiri dari beberapa jenis bahan dan kain termasuk perlengkapan lainnya) dan dalam acara “moandori” dimana peserta “molulo” menyayikan lagu “moandori” (sebuah lagu berisi syair-syair yang dipercaya dapat menghadirkan ruh para Sangia dalam acara “ndo’ua”. Lalu dalam acara “montente awu” yaitu ritual “molulo” yang dilakukan oleh mempelai pengantin setelah melakukan ijab kabul. Acara “molulo” pun menjadi rangkaian penutup sebuah pesta perkawinan sebagai hiburan.
Kini, “lulo” bukan hanya menjadi milik masyarakat Moronene dan Tolaki tetapi telah menjadi ikon masyarakat Sulawesi Tenggara. ***
Komentar
Posting Komentar